<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29334330</id><updated>2011-04-21T18:47:29.120-07:00</updated><title type='text'>rosidi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rosidi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>rosidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08585685100720659434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29334330.post-114958407826637369</id><published>2006-06-06T01:50:00.001-07:00</published><updated>2006-06-06T01:54:38.270-07:00</updated><title type='text'>■ Kompensasi BBM: Beri Kail Jangan Ikan</title><content type='html'>Kebijakan pemerintah memberikan subsidi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa uang Subsidi Langsung Tunai (SLT) kepada masyarakat, bukanlah solusi tepat. Meski tujuannya untuk membantu meringankan beban hidup mereka. Sama tidaktepatnya kebijakan kenaikan harga itu sendiri, ditengah kondisi rakyat yang berada dalam kemiskinan dam tiadanya lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;Tanpa disadari pula, “sikap baik” pemerintah memberikan subsidi, itu juga bisa berdampak negatif dan menjadi bumerang pada akhirnya. Dengan itu, secara pelan tapi pasti, mengebiri kemandirian dan kreatifitas rakyat menjadi bangsa pemalas. Akhirnya, mereka akan selalu berharap datangnya bantuan (subsidi) bagi kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;Persyaratan untuk mendapatkan subsidi juga tidak rasional. Yaitu mereka yang berpendapatan di bawah 175 ribu rupiah per bulan. Bukankah ini sangat tidak rasional? Sedang penghasilan pemulung saja bisa mencapai Rp. 500.000 per bulan.&lt;br /&gt;Yang lebih tidak rasional lagi, adalah kenaikan BBM itu sendiri. Mengapa harus naik? Mengikuti harga pasar internasional? Kalau ini permasalahannya, adalah sangat tidak rasional lagi. Bagaimana mungkin negara yang kaya minyak, tidak bisa menentukan harga sendiri dan selalu disetir oleh negara yang tidak mempunyai sumber daya minyak sama sekali.&lt;br /&gt;Selanjutnya, kalau sekadar subsidi yang tidak seberapa besar itu, yang justru memunculkan masalah baru, mulai dari banyaknya orang yang mengaku miskin secara berjamaah karena ingin mendapatkan subsidi, sampai pendistribusiannya yang rentan terhadap manipulasi, sehingga perlu pengawasan yang ketat.&lt;br /&gt;Di beberapa tempat (daerah), banyak anggota masyarakat yang seharusnya mendapatkan STL karena miskin, malah tidak dapat sama sekali. Seperti yang dialami Mbah Ngadiyono, seorang janda jompo di Yogyakarta, yang sehari-hari mengandalkan hidup dari bantuan orang lain. Namun ia tidak terdaftar sebagai penerima kompensasi subsidi BBM (Kompas, 13/10/2005).&lt;br /&gt;Karena itu, alangkah baiknya jika pemerintah tidak memberikan subsidi. Dengan satu syarat, BBM turun dan harga-harga kebutuhan termasuk transportasi kembali ke sediakala.&lt;br /&gt;Bukankah sebenarnya sama BBM naik atau tidak bagi pemerintah. Karena kenaikan itu, dipergunakan untuk subsidi pendidikan, kesehatan dan bantuan bagi rakyat miskin. Dan untuk merealisasikan subsidi yang di janjikan pemerintah, rakyat harus diperas dengan lonjakan kenaikan harga yang begitu mencekik.&lt;br /&gt;Sayang, rakyat tidak pernah diajak bicara mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah. Rakyat hanya dijadikan obyek mati yang tidak bisa berbuat apapun, sehingga harus menerima segala kebijakan yang diproduk oleh pemimpin (?) negeri.&lt;br /&gt;Para anggota dewan, yang selama ini mengaku sebagai wakil rakyat, juga tidak bisa berbuat banyak untuk memperjuangkan rakyat. Karena mereka sendiri, bukan kelompok yang benar-benar ingin memperjuangkan rakyat, tapi dari kelompok kepentingan yang menyuarakan suara partainya.&lt;br /&gt;Bagaimana mengenai kenaikan harga BBM? Seandainya rakyat di suruh memilih antara mendapatkan subsidi dengan konsekuensi BBM naik atau tidak mendapatkan subsidi tetapi BBM tidak naik, pasti akan memilih pilihan kedua.&lt;br /&gt;Beri kail, jangan ikan&lt;br /&gt;Pemberian dana kompensasi BBM karena sudah telanjur naik, adalah salah satu cermin tidakdewasanya pemerintah kita dalam mengambil sebuah kebijakan. Apakah jika rakyat mendapatkan subsidi, problem kemiskinan akan teratasi?&lt;br /&gt;Pemerintah selalu saja memberikan sesuatu yang membuat terpangkasnya kemandirian rakyat. Bukan sebaliknya, mendorong agar rakyat kreatif mencipta dan menghasilkan karya, yang bisa digunakan untuk menopang keberlangsungan kehidupannya.&lt;br /&gt;Pemerintah selalu menyederhanakan masalah. Rakyat miskin bukan diberi uang solusinya. Tetapi diberi pekerjaan. Nah, karena BBM telanjur naik dan rakyat menjerit karena kebutuhan hidupnya membengkak, maka buatlah pabrik dan berikan rakyat pekerjaan.&lt;br /&gt;Dari mana uang untuk mendirikan pabrik itu? Tentu saja dari dana kompensasi BBM yang berjumlah Triliunan rupiah, dan dikelola semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;Jangan samakan Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Yang, meski BBM di sana bisa dibilang cukup tinggi, namun rakyat tidak menjerit seperti di Indonesia. Apa pasal? Karena kesejahteraan hidup mereka terjamin, dan lapangan pekerjaan terbuka luas.&lt;br /&gt;Di Indonesia? Jangankan kesejahteraan hidup. Mencari pekerjaan saja susahnya bukan main. Praktis, ini bisa saja menjadi pemicu kerusuhan jika BBM dan harga-harga lain yang dibutuhkan masyarakat terus melambung.&lt;br /&gt;Untuk itu, mendirikan industri-industri sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah, adalah sebuah pilihan tepat. Tujuannya, agar kemandirian rakyat tidak terpangkas, rakyat dapat berkarya dengan bekerja. Itu akan lebih baik, meski sebenarnya, yang dibuat mendirikan tempat-tepat industri itu juga dari uang rakyat, dari uang kompensasi.&lt;br /&gt;Ajarlah rakyat agar mandiri dan tidak selalu berpangku tangan. Jangan beri mereka ikan, tapi berilah mereka kail. Jangan beri mereka uang, tapi berilah mereka pekerjaan.■ Rosidi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29334330-114958407826637369?l=rosidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidi.blogspot.com/feeds/114958407826637369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29334330&amp;postID=114958407826637369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958407826637369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958407826637369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidi.blogspot.com/2006/06/kompensasi-bbm-beri-kail-jangan-ikan_06.html' title='■ Kompensasi BBM: Beri Kail Jangan Ikan'/><author><name>rosidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08585685100720659434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29334330.post-114958390984181174</id><published>2006-06-06T01:50:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T01:51:49.846-07:00</updated><title type='text'>■ Kompensasi BBM: Beri Kail Jangan Ikan</title><content type='html'>Kebijakan pemerintah memberikan subsidi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa uang Subsidi Langsung Tunai (SLT) kepada masyarakat, bukanlah solusi tepat. Meski tujuannya untuk membantu meringankan beban hidup mereka. Sama tidaktepatnya kebijakan kenaikan harga itu sendiri, ditengah kondisi rakyat yang berada dalam kemiskinan dam tiadanya lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;   Tanpa disadari pula, “sikap baik” pemerintah memberikan subsidi, itu juga bisa berdampak negatif dan menjadi bumerang pada akhirnya. Dengan itu, secara pelan tapi pasti, mengebiri kemandirian dan kreatifitas rakyat menjadi bangsa pemalas. Akhirnya, mereka akan selalu berharap datangnya bantuan (subsidi) bagi kelangsungan hidupnya.&lt;br /&gt;   Persyaratan untuk mendapatkan subsidi juga tidak rasional. Yaitu mereka yang berpendapatan di bawah 175 ribu rupiah per bulan. Bukankah ini sangat tidak rasional? Sedang penghasilan pemulung saja bisa mencapai Rp. 500.000 per bulan.&lt;br /&gt;   Yang lebih tidak rasional lagi, adalah kenaikan BBM itu sendiri. Mengapa harus naik? Mengikuti harga pasar internasional? Kalau ini permasalahannya, adalah sangat tidak rasional lagi. Bagaimana mungkin negara yang kaya minyak, tidak bisa menentukan harga sendiri dan selalu disetir oleh negara yang tidak mempunyai sumber daya minyak sama sekali.&lt;br /&gt;   Selanjutnya, kalau sekadar subsidi yang tidak seberapa besar itu, yang justru memunculkan masalah baru, mulai dari banyaknya orang yang mengaku miskin secara berjamaah karena ingin mendapatkan subsidi, sampai pendistribusiannya yang rentan terhadap manipulasi, sehingga perlu pengawasan yang ketat.&lt;br /&gt;   Di beberapa tempat (daerah), banyak anggota masyarakat yang seharusnya mendapatkan STL karena miskin, malah tidak dapat sama sekali. Seperti yang dialami Mbah Ngadiyono, seorang janda jompo di Yogyakarta, yang sehari-hari mengandalkan hidup dari bantuan orang lain. Namun ia tidak terdaftar sebagai penerima kompensasi subsidi BBM (Kompas, 13/10/2005).&lt;br /&gt;   Karena itu, alangkah baiknya jika pemerintah tidak memberikan subsidi. Dengan satu syarat, BBM turun dan harga-harga kebutuhan termasuk transportasi kembali ke sediakala.&lt;br /&gt;   Bukankah sebenarnya sama BBM naik atau tidak bagi pemerintah. Karena kenaikan itu, dipergunakan untuk subsidi pendidikan, kesehatan dan bantuan bagi rakyat miskin. Dan untuk merealisasikan subsidi yang di janjikan pemerintah, rakyat harus diperas dengan lonjakan kenaikan harga yang begitu mencekik.&lt;br /&gt;   Sayang, rakyat tidak pernah diajak bicara mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah. Rakyat hanya dijadikan obyek mati yang tidak bisa berbuat apapun, sehingga harus menerima segala kebijakan yang diproduk oleh pemimpin (?) negeri.&lt;br /&gt;   Para anggota dewan, yang selama ini mengaku sebagai wakil rakyat, juga tidak bisa berbuat banyak untuk memperjuangkan rakyat. Karena mereka sendiri, bukan kelompok yang benar-benar ingin memperjuangkan rakyat, tapi dari kelompok kepentingan yang menyuarakan suara partainya.&lt;br /&gt;   Bagaimana mengenai kenaikan harga BBM? Seandainya rakyat di suruh memilih antara mendapatkan subsidi dengan konsekuensi BBM naik atau tidak mendapatkan subsidi tetapi BBM tidak naik, pasti akan memilih pilihan kedua.&lt;br /&gt;   Beri kail, jangan ikan&lt;br /&gt;   Pemberian dana kompensasi BBM karena sudah telanjur naik, adalah salah satu cermin tidakdewasanya pemerintah kita dalam mengambil sebuah kebijakan. Apakah jika rakyat mendapatkan subsidi, problem kemiskinan akan teratasi?&lt;br /&gt;   Pemerintah selalu saja memberikan sesuatu yang membuat terpangkasnya kemandirian rakyat. Bukan sebaliknya, mendorong agar rakyat kreatif mencipta dan menghasilkan karya, yang bisa digunakan untuk menopang keberlangsungan kehidupannya.&lt;br /&gt;   Pemerintah selalu menyederhanakan masalah. Rakyat miskin bukan diberi uang solusinya. Tetapi diberi pekerjaan. Nah, karena BBM telanjur naik dan rakyat menjerit karena kebutuhan hidupnya membengkak, maka buatlah pabrik dan berikan rakyat pekerjaan.&lt;br /&gt;   Dari mana uang untuk mendirikan pabrik itu? Tentu saja dari dana kompensasi BBM yang berjumlah Triliunan rupiah, dan dikelola semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;   Jangan samakan Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Yang, meski BBM di sana bisa dibilang cukup tinggi, namun rakyat tidak menjerit seperti di Indonesia. Apa pasal? Karena kesejahteraan hidup mereka terjamin, dan lapangan pekerjaan terbuka luas.&lt;br /&gt;   Di Indonesia? Jangankan kesejahteraan hidup. Mencari pekerjaan saja susahnya bukan main. Praktis, ini bisa saja menjadi pemicu kerusuhan jika BBM dan harga-harga lain yang dibutuhkan masyarakat terus melambung.&lt;br /&gt;   Untuk itu, mendirikan industri-industri sesuai dengan kondisi di masing-masing daerah, adalah sebuah pilihan tepat. Tujuannya, agar kemandirian rakyat tidak terpangkas, rakyat dapat berkarya dengan bekerja. Itu akan lebih baik, meski sebenarnya, yang dibuat mendirikan tempat-tepat industri itu juga dari uang rakyat, dari uang kompensasi.&lt;br /&gt;   Ajarlah rakyat agar mandiri dan tidak selalu berpangku tangan. Jangan beri mereka ikan, tapi berilah mereka kail. Jangan beri mereka uang, tapi berilah mereka pekerjaan.■ Rosidi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29334330-114958390984181174?l=rosidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidi.blogspot.com/feeds/114958390984181174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29334330&amp;postID=114958390984181174' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958390984181174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958390984181174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidi.blogspot.com/2006/06/kompensasi-bbm-beri-kail-jangan-ikan.html' title='■ Kompensasi BBM: Beri Kail Jangan Ikan'/><author><name>rosidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08585685100720659434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29334330.post-114958369202163731</id><published>2006-06-06T01:43:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T01:48:12.023-07:00</updated><title type='text'>Mencermati Pencemaran Sungai Semarang</title><content type='html'>Pola hidup bersih dan sehat hanya tercipta jika di dukung dengan lingkungan yang bersih dan sehat pula. Lingkungan itu meliputi perumahan, jalan, kebun, dan sungai atau aliran air.&lt;br /&gt;   Berkaitan dengan kebersihan lingkungan, Semarang bisa dibilang buruk. Kenapa? Padahal program “resik-resik kutho” yang digalakkan pemerintah kota, telah mengantarkan ibukota Provinsi ini memperoleh penghargaan Adipura Kencana.&lt;br /&gt;   Ya. Program resik-resik kutho memang telah mengantarkan semarang meraih penghargaan. Namun program itu belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat dan menyadarkannya akan pentingnya hidup bersih dan sehat. Resik-resik kutho hanya ada di wilayah yang di blow up oleh media. Bagaimana dengan yang lain?&lt;br /&gt;   Rob yang seringkali terjadi setiap kali turun hujan, bukanlah suatu kebetulan dan gejala alam yang harus diterima begitu saja. Karena itu terjadi akibat pendangkalan sungai-sungai dan tersumbatnya saluran air yang ada.&lt;br /&gt;   Pendangkalan sungai yang ada, bisa dilihat misalnya di sungai Banjir Kanal Timur dan sungai Barito. Di kedua sungai ini bahkan tidak hanya terjadi pendangkalan. Penyempitan dan bau tak sedap (busuk) akibat sampah yang dibuang sembarangan, juga menjadi pemandangan yang sangat meresahkan.&lt;br /&gt;   Tidak hanya di kedua sungai ini. Kebanyakan sungai di semarang, kini sudah tercemar oleh limbah dan dijadikan pembuangan sampah oleh orang-orang yang tidak mau tahu akan pentingnya lingkungan yang bersih.&lt;br /&gt;   Kondisi tersebut, jika terus dibiarkan, akan berakibat buruk bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Selain bisa menjadi penyebab rob, juga bisa menyebabkan percepatan penyebaran penyakit.&lt;br /&gt;   Penyebaran penyakit itu terjadi karena sungai-sungai yang kotor, berpotensi besar dijadikan sarang nyamuk. Selain itu, bau busuk yang dikeluarkan, juga bisa berakibat buruk bagi pernafasan.&lt;br /&gt;   Karena itu, pemerintah kota semarang harus segera mengambil tindakan. Sosialisasi terhadap pentingnya hidup bersih harus digalakkan. Pembersihan sungai-sungai dan pelarangan pembuangan sampah di sungai, harus segera dilaksanakan. Syukur nanti ada SK Walikota yang khusus membahas masalah kebersihan lingkungan berikut sanksi yang bakal diterima jika melanggarnya.&lt;br /&gt;   Dengan begitu, maka pencemaran lingkungan terutama pencemaran sungai, sedikit demi sedikit akan terkikis dan hilang. Akhirnya hidup bersih dan sehat tidak akan lagi sekadar wacana di ruang-ruang diskusi dan seminar tanpa kenyataan. Tapi juga dapat diwujudnyatakan. (Rosidi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29334330-114958369202163731?l=rosidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidi.blogspot.com/feeds/114958369202163731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29334330&amp;postID=114958369202163731' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958369202163731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958369202163731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidi.blogspot.com/2006/06/mencermati-pencemaran-sungai-semarang.html' title='Mencermati Pencemaran Sungai Semarang'/><author><name>rosidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08585685100720659434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29334330.post-114958335333344700</id><published>2006-06-06T01:37:00.000-07:00</published><updated>2006-06-06T01:42:33.340-07:00</updated><title type='text'>Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;   Jepang , salah satu desa di kabupaten Kudus, barangkali kurang dikenal masyarakat luas, kecuali masjid “Al-Makmur” yang merupakan salah satu peninggalan Wali yang dijadikan sebagai salah satu cagar budaya di kota kretek ini.&lt;br /&gt;   Selain itu, adalah tradisi mengambil “Banyu Salamun” di masjid tersebut pada malam rabu pungkasan din bulan Shafar (Jawa: Sapar). Konon kabarnya, air dari sumur masjid tersebut bisa dijadikan untuk mengobati berbagai penyakit. Maka tidak heran jika pada saat malam rabu pungkasan, ribuan orang dari desa Jepang dan desa-desa tetangga berduyun-duyun mengambil air di masjid tersebut.&lt;br /&gt;   Namun jangan salah. Jepang tidak hanya punya masjid wali dan tradisi rabu pungkasan. Disana ada pula kerajinan anyaman bambu yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di kota kudus.&lt;br /&gt;   Bambu yang bagi sebagian besar orang tidak mempunyai peran yang begitu berharga, di tangan masyarakat Jepang , ia menjadi alat untuk berdikari dan menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;   Kepang, Kere, Besek, Ekrak, Dunak dan Kalo, adalah sedikit kerajinan masyarakat Jepang yang masih dibuat sampai kini. Dari tangan-tangan terampil masyarakatnya, sebuah anyaman bambu yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi tercipta.&lt;br /&gt;   Perlu perhatian&lt;br /&gt;   Bambu, adalah materi (hyle) sebagaimana benda-benda lain yang tanpa guna apabila tidak ada tangan-tangan trampil yang memberinya bentuk (morphe).&lt;br /&gt;   Meminjam tesis Aristoteles (384-322 SM), bambu merupakan materi dengan kemungkinan terbuka, menerima untuk ditentukan oleh suatu bentuk. Lewat bentuk itulah nanti materi ditentukan. Bentuklah yang membedakan pohon, gelondongan kayu, bambu, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;   Nah, bambu di desa Jepang , telah menjadi suatu bentuk yang sangat eksotik dengan nilai seni yang sangat menawan. Di desa ini, bambu yang biasanya sekadar digunakan untuk jembatan darurat seperti pada waktu terjadi Banjir di Dawe beberapa waktu lalu, atau sekadar sebagai penyangga (soko) rumah yang terbuat dari gedeg (kepang), di desa itu bisa menjadi berbagai benda dengan beragam bantuk.&lt;br /&gt;   Anyaman bambu Jepang adalah kerajinan dan warisan (seni) tradisional yang sudah seharusnya mendapatkan perhatian agar tidak punah di kemudian hari.&lt;br /&gt;   Kini, perhatian terhadap warisan leluhur itu sudah harus dilakukan. Karena semakin sedikitnya orang yang bisa membuat kerajinan tangan dari bambu tersebut.&lt;br /&gt;   Menyelamatkan kerajinan anyaman bambu di desa Jepang , mutlak dilakukan. Ini j ika pemerintah tidak ingin kehilangan warisan leluhur yang sangat eksotik dan bernilai seni tinggi itu. Hingga kerajinan itu tidak akan berpindah hak ciptanya ke daerah atau bangsa lain, sebagaimana tempe yang hak ciptanya dimiliki oleh bangsa Jepang . (Rosidi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29334330-114958335333344700?l=rosidi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rosidi.blogspot.com/feeds/114958335333344700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29334330&amp;postID=114958335333344700' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958335333344700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29334330/posts/default/114958335333344700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rosidi.blogspot.com/2006/06/menyelamatkan-kerajinan-bambu-jepang.html' title='Menyelamatkan Kerajinan Bambu Jepang'/><author><name>rosidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08585685100720659434</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
